Filed under: Renungan
Kita sudah belajar terbang diudara seperti burung
Dan belajar berenang didasar laut seperti ikan
Sekarang yang harus kita pelajari adalah
Berjalan didunia sebagai manusia
Ini adalah proses dimana kita belajar
Mencintai hidup dengan hati yang tulus
Belajar lebih manusiawi
Dari waktu kewaktu
- Charles Kingsley –
Filed under: Renungan
Keberhasilan sebenarnya adalah tentang memilih yang baik diantara yang buruk, membuat sumbangan positif kepada dunia disekitarmu, dan menghargai hal-hal yang benar-benar penting seperti keluarga dan teman.
Note : “Apakah kita sudah berhasil? tanyakan pada nuranimu yang terdalam”
Filed under: Renungan
Disadur dari buku “The True Power of Water” By Masaru Emoto
Pada konsep terbentuknya manusia, telur yang dibuahi 96% nya adalah air. Setelah lahir 80% tubuh seorang bayi adalah air. Semakin tubuh manusia berkembang presentase air berkurang dan menetap sampai batas 70% ketika manusia mencapai usia dewasa. Dengan kata lain, selama ini kita hidup sebagai air. Jadi bisa dikatakan sebenarnya manusia adalah air.
Sebelumnya Air sangat sulit diteliti. Mungkin karena itulah kita tidak dapat memahami orang lain atau diri sendiri.
Pada buku Masaru Emoto “The True Power of Water” tentang air dapat disimpulkan bahwa “Kualitas air tergantung pada informasi yang diterimanya baik itu berupa kata-kata, doa ataupun musik.
a. Bila air diberi informasi yang baik (positif) seperti kata-kata : Terimakasih, cinta, kebahagiaan, pengampunan dan kata-kata positif lainnya. Maka air akan membentuk/ menyusun kristal yang indah.
Dan bentuk kristal yang paling indah dari kata-kata diatas adalah air yang diberikan kata “Cinta dan Terimakasih”. Ini karenakan adanya kekuatan kata-kata, dimana “Cinta” bersifat absolute, sedangkan “Terimakasih bersifat relatif. Absolut adalah Energi aktif, sedangkan relative merupakan energi pasif.
Untuk dapat memberi, kita butuh orang yang menerima. Betapapun kerasnya usaha kita untuk memberikan cinta, kita tidak akan berhasil melakukannya tanpa adanya seorang penerima, ini sudah aturan alam.
b. Bila air diberi informasi yang tidak baik (negative) seperti kata-kata : Tidak suka, lemah, dendam, perang, penderitaan dll. Maka air akan membentuk/menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak berimbang atau bahkan tidak akan membentuk kristal sama sekali.
Ada satu hal yang amat sangat mengelitik pikiran saya dari buku Masaru Emoto tentang air ini. Yaitu suatu percobaan pada sebuah nasi yang ditaruh dalam 3 botol terpisah dimana botol pertama diberi informasi positif, botol kedua diberi informasi negative dan botol ketiga tidak diberi informasi apapun.
Menurut Anda apa yang akan terjadi? Ternyata, nasi pada botol Pertama membentuk fermentasi dengan bau alkohol yang khas. Nasi pada botol Kedua menjadi basi dan berwarna hitam. Sedangkan Nasi pada botol Ketiga menjadi basi lebih cepat dari nasi botol Kedua.
Hasil percobaan tadi mempunyai arti yang sangat penting. Bahwa hal yang terberat dalam hidup kita adalah tidak diperdulikan atau diperhatikan sama sekali. Dengan memberikan perhatian kepada suatu benda, berarti kita memberikan energi kepada benda tersebut.
Jadi air yang merupakan faktor terbesar pembentuk tubuh kita dan air yang merupakan faktor terbesar pembentuk planet ini adalah Penyembuh yang dapat disalurkan kedalam pikiran kita. Selain itu melalui interaksi dengan air, kita juga dapat mengirim butir-butiran cinta dan rasa terimakasih, sebagai bentuk emosi yang paling kuat kesetiap orang dan makhluk hidup diplanet ini.
Mari terus mempelajari air, mari terus memperhatikan, menghargai dan berterima kasih akan adanya air. Dan cobalah menerima gerakan gelombangnya dengan sikap yang positif.
Lalu mari terus mempelajari tentang diri sendiri. Semakin mengenal air, semakin jelas melihat diri sendiri. Semakin jelas melihat diri sendiri maka kita akan dapat menerima masyarkat bangsa dunia, bumi, alam semesta dan bahkan Tuhan.
Jika air berubah, kita juga akan ikut berubah dan begitu juga saya. Karena Anda dan saya adalah air.
Terakhir saya ingin ucapkan “Kamusamuhamida” (Terimakasih) dan “Sarang haeyo” (Aku cinta padamu)